Cerpen - Air Mata Sang Perwiri
Air Mata Sang Perwiri Oleh: Orie Tak dapat ku tahan dan tak akan ku hentikan tangisku ketika bersua kembali dengan sentuhan kerut kulit yang ku rindukan. Kerut kulit kehidupan. Sejuknya jiwa ini ketika perut tangannya menyentuh dan jari kurusnya mengacaukan rambut hitamku. Menangiskah ia ketika itu, mengalirkah airmatanya mengairi kerut wajah yang menganak sungai di pipinya? Berdosanya aku, apakah tak pernah kusadari bahwa wanita tua itu adalah ibuku. Ia yang menjerit kesakitan, ia gigit b agar aku dapat hidup dunia. Jeritan itulah yang mendahului tangisanku ketika aku muncul di sini.Aku tak pernah sadar kapan ia tersenyum dan kapan ia kutangiskan kembali. Ibuku memang wanita ceria yang tak kupedulikan ibanya. Aku adalah duri yang ikut tumbuh di tengah rumput hijau nan subur yang ditumbuhkan tanahnya. Aku peluk kakinya semakin kuat. Kaki yang dipakaikan sepatu itali yang ku kirimkan beberapa tahun yang lalu. Sungguh tak kusangka sebelumnya. Sepatu itu tidak cocok untukn...




Komentar